Solusi Terbaik untuk Timnas Sepak Bola Indonesia


Melihat dua organisasi induk sepak bola Indonesia saat ini, yakni PSSI dibawah pimpinan Djohar Arifin Husin, dan PSSI versi Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) pimpinan La Nyalla Mattalitti, saya sering mengelus dada. Apa yang terjadi dengan persepak bolaan di Tanah Air ini? Begitu bodohkah pengurusnya sehingga tak bisa bersatu, atau karena egoisme masing-masing pihak untuk mempertahankan posisinya, walau mereka jelas-jelas berbuat kesalahan?Harapan terbesar organisasi persebak bolaan di Tanah Air, sempat menguak harapan akan hadirnya tim nasional yang lebih baik lagi saat terpilihnya Djohar Arifin Husin menjadi Ketua Umum PSSI saat Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo 2011. Namun harapan hanya tinggal harapan, ketika Djohar Arifin dkk mulai melakukan kesalahan dengan mencetuskan kompetisi liga tertinggi sepak bola nasional diikuti 32 klub.

Menurut saya, inilah kesalahan pertama Djohar Arifin. Sebab, dalam hasil Kongres II PSSI di Bali pada 9 Juli 2011 memutuskan, kompetisi PSSI 2011/2012 diikuti 18 klub dan nama kompetisi tertinggi di Indonesia bernama Super League atau Liga Super. Inilahlah kesalahan kedua yang dilakukan Djohar Arifin dkk. Ia mengganti nama kompetisi tertinggi dengan nama Liga Prima.

Kesalahan ketiga, soal keikutsertaan klub untuk mengikuti kompetisi. Harusnya, klub yang ikut di kompetisi tertinggi adalah klub yang sudah disepakati dalam kasta tertinggi, dan kemudian tambahan klub lainnya berasal dari divisi dibawahnya, sebagai pengganti klub yang terdegradasi dari kompetisi tertinggi.

Faktanya, klub-klub yang bermain di kompetisi tertinggi yang digagas Djohar Arifin dkk, justru klub-klub yang berada jauh dibawah kasta tertinggi namun naik ke posisi teratas tanpa pernah menjuarai klub divisi nomor dua.

Lalu bagaimana dengan La Nyalla dkk? Sebagai warga negara Indonesia, sudah semestinya harapan saya PSSI hanya satu, bukan dua atau lebih. Salahkah La Nyalla? Di satu sisi, mendirikan organisasi tandingan, jelas salah. Tapi, di sisi lain, ia bisa benar. Mengapa? Ketika organisasi telah menyimpang dari tujuan awal dan kesepakatan bersama, maka upaya memperbaiki organisasi itu adalah melalui tabayyun, saling memperbaiki.

Tapi, bila orang yang diajak perbaikan tak mau menanggapi dan tetap keukeuh mempertahankannya walau sudah salah, maka upaya terbaik dalam sebuah organisasi adalah meminta pertanggungjawaban pengurusnya dalam sebuah kongres luar biasa (KLB).

Lalu harusnya kita mendukung siapa? Kalau saya, jelas mendukung organisasi yang sah dan menjalankan aturan main yang benar. Karena menurut saya, kedua-duanya (PSSI versi Djohar dan PSSI La Nyalla) salah. Maka solusi terbaik adalah dengan mengembalikan amanah organisasi ke induknya, yakni Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Terserah, KONI mau bagaimana, membekukan kepengurusan PSSI, lalu menggelar kongres ulang dengan melibatkan pihak-pihak terkait. Dari situlah, akan hadir satu organisasi yang legitimated.

Bagaimana dengan FIFA dan AFC? Sama saja. Menurut saya, keduanya juga punya andil besar menjadi penyebab rusaknya organisasi PSSI. Pertama, ketidakkonsistenan FIFA dan AFC dalam menentukan peserta yang ikut kompetisi di Liga Champions Asia.

Persipura, juara Liga Super Indonesia 2010/2011, berhak mengikuti kejuaraan Liga Champions Asia. Namun, karena PSSI Djohar Arifin menganggap Persipura melanggar ketentuan PSSI akibat mengikuti kompetisi LSI (breakaway league), —dan bukannya LPI sebagaimana keinginan Djohar dkk,—- maka klub kebanggaan warga Papua itupun tak bisa mengikuti kejuaraan tersebut. Namun, saat diajukan ke mahkamah aribtrase FIFA (CAS), mereka (PSSI dan AFC) akhirnya mengakui Persipura boleh mengikuti kompetisi Liga Champions Asia.

Ini menurut saya, kesalahan fatal PSSI, AFC, dan juga FIFA. Jika memang Persipura merupakan klub breakaway league (kompetisi ilegal), kenapa mereka diijinkan mengikuti LCA? Apakah karena mereka sebelumnya berada di kompetisi resmi PSSI tahun sebelumnya? Jika alasannya ini, sama saja FIFA dan AFC tidak punya ketegasan tentang klub Persipura.

So, sebagai pecinta sepak bola, kembalikan organisasi PSSI ke KONI dan Kemenpora. Pemerintah punya kuasa memaksa organisasi yang ada dibawahnya untuk tunduk. Jika tidak, bubarkan dan dibekukan sementara, sampai situasi kondusif. Sebab, jika kondisinya terus menerus seperti ini, maka kita tidak bisa bermimpi tim nasional kita mampu berkompetisi di level tertinggi dunia. Jangankan Piala Dunia dan Piala Asia, di kawasan Asia Tenggara saja, kita belum mampu menjadi yang terbaik. (syafik).

27 responses to “Solusi Terbaik untuk Timnas Sepak Bola Indonesia

  1. Ah ini seh analisis pasaran, bukan solusi. Bersihkan rumah PSSI dr para politisi, sterilkan, maka kepentingannya akan tinggal satu, demi sepakbola INDONESIA. Selama ada unsur politisi di situ, maka kekeruhan akan selalu ada, tidak pernah jernih, konflik kepentingan melulu.

  2. harap banyak menmbaca bro

  3. terima kasih atas kritikannya. Saya akan terus banyak membaca gan… sekali lagi, terima kasih dan semoga bermanfaat. Salam…

  4. iklan…..

  5. sip.. saya setuju KLB ulang ja br yg baru ja boz.. yg memang cinta bola dan netral bukan boneka.

  6. Katakanlah PSSI membuat kesalahan diatas, respons kubu KPSSI yg membuat runyam.
    Memperbaiki kesalahan harus dengan cara yang benar.

    Bukan berarti saya setuju bahwa PSSI membuat kesalahan. Kalau anda pelajari dengan benar, argumen dibelakang ‘kesalahan’ yg anda sebutkan sangatlah kuat.
    Liganya diganti karena penyelenggara tidak mau di audit.

  7. Matamu cuk… Kalo menpora ikut2an bisa diband FIFA. PSSI yang sah yang dibawah FIFA, kalo KPSI di bawah VIVA dan Tuhan Bakrie, La Nyalla balik kadi supir angkot Wonokromo Malang saja….

    • Ya korbannya termasuk AREMA jadi 2 yang satu bentukankkan Johar Arifin dan Saleh Mukadar/Bonek yang sekarang gak pernah digubris sama AREMANIA. AREMANIA tetap berduyun-duyun ke AREMA Kanjuruhan, walaupun akan terdegradasi AREMANIA tetap mendukung. Iso ne Cak-Cuk ae. Dasar bentuk team gak bondo duwek. Bondone Nekat ae kakean cangkem

  8. setuju..bro..

  9. setuju, memang pemerintah harus turun tangan

  10. hanya rakyat yg dpt mengambil alih pssi,dan menunjuk caretaker pssi dari wajah baru,karna kedua kubu ini trouble,sdh banyak dosanya,ambil yg baik dan berguna aja buang yg buruk dengan dihukum tdk boleh ngurusin bola.masalahnya,ngga ada satupun orang yg berani mau tampil di publik untuk bilang saya akan mati2an untk bola indonesia,kenapa karna ke dua kubu ini,punya power..yg ngga semua orng punya,padahal kita sama2 manusia..masalah utama disini adalah HARTA DAN TAHTA…semoga tuhan memaafkan mereka,amien

  11. AAHH WARTAWAN VIVANEWS KAYA GA PERNAH SEKOLAH AJA………..MASA PENDUKUNG NURDIN HALID DI BELA, PAKE OTAK DONG.

  12. good idea

  13. capek liat kepemimpinan johar arifin yang semakin parah..

  14. satuju uingmah…… kalau pssi ke 2 nya masih tetep tidak mau disatukan….. kembalikan saja ke koni….biar bikin ulang kepengurusan yang baru diluar ke2 organisasi yg sudah terbentuk…..

  15. pemerintah tidak akan bisa memaksa organisasi yng dibawahnya untuk tunduk, buktinya maslah BBM aja pada rame pasti akan terkait dengan politik

  16. Sepakat yg lain ini analisis pasaran n ga ada solusi kronkrit…
    tp buat sekedar belajar menulis c y gpp deeeh..
    cm perlu d inget dlm menulis itu opini jgn berlebihan porsinya… jgn lp jg fakta2 harus diperkuat jg…

  17. For all: terima kasih kritikan, saran, dan dukungannya. bagaimanapun, kita harus mencari solusi yang terbaik bagi persepakbolaan nasional. Sebab, dua PSSI yang saat ini, sdh sama-sama tdk bisa diharapkan. Karenanya harus ada pihak lain yang terlibat untuk menyelesaikannya dan itu adalah pemerintah atau KONI untuk bertindak tegas. Kasihan para pemain yang ingin membela timnas.
    Ingat, kebanggaan seorang pemain sepak bola adalah saat dipercaya untuk membela timnas. Kalau PSSI tdk mengakui, kapan timnas kita bisa berkompetisi dengan maju. Kebijakan untuk memanggil pemain di LSI juga bukan solusi. Karena itu, pemerintahlah yang harus turun tangan.
    Kalau mau radikal, bekukan saja semua kompetisi yang ada biar kita disanksi sama FIFA. Dan beberapa tahun kemudian setalah sanksi dicabut, baru bisa tampil. Tapi, selama masa sanksi itu, kita bentuk tim yang kuat..
    So, bagi agan-agan yang tidak setuju dengan pendapat saya, tidak ada masalah. Kita harus belajar menerima. Dan dengan lapang dada, masukan agan-agan semuanya saya terima. Karena saya yakin, agan-agan semua juga menginginkan timnas Indonesia yang lebih baik lagi dan mampu tampil di Piala Dunia.

  18. Adhitya Nugraha

    saya juga berpendapat sama, lbh baik koni ambil alih PSSI, buat PSSI yang “baru” jangan ada 2 tokoh itu lagi (keluarga Bakrie vs keluarga Panigoro).

  19. Inilah kalo olahraga udah dicampuri politik, jadinya kotor. Prinsip fair play udah ngga berlaku lagi. Fair play itu harusnya ngga cuma waktu pertandingan, tapi menyeluruh termasuk ke dalam induk organisasi itu sendiri. Yang salah ya jelas kedua oknum yang saling membekingi kedua PSSi ini. PSSI itu milik rakyat, maka kembalikanlah ke rakyat.

    • kalo dikembalikan ke rakyat, siapa yang mengatasnamakan rakyat??? Di negeri ini, katanya rakyat berdaulat, tapi masih yang diatas juga yang berwenang menentukan segalanya. Kita tidak bisa menafikan peran pemerintah. Dengan cara itu, kita berharap, persepakbolaan nasional bisa dibanggakan. jadi bukan cuma para politisi itu….

      • Gan, pemerintah itu kan kepanjangan tangan rakyat. Ya kewenangan di tangan KONI dan MENPORA. Bekukan kedua oknum yang berseteru itu. Kedua oknum itu bertarung tapi memakai fasilitas rakyat, kenapa mereka ngga cari medan lain untuk bertempur?

      • sip gan….. dukung terus sepak bola kita agar mampu menjadi yang terbaik….

  20. is about the money money money,,

  21. Ping-balik: Solusi Terbaik untuk Timnas Sepak Bola Indonesia | Keren & Unik | ligaindonesia.biz

  22. Ping-balik: Inilah Atlet Tertua Dalam Olimpiade | RuangKabar.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s