Striker yang Paling Sedikit Cetak Gol Pinalti


Masih ingat dengan Gabriel Omar Batistuta? Mantan penyerang timnas Argentina ini, kini sudah pensiun dari sepak bola pada 14 Maret 2005 silam, sesuai membela klub Al-Arabi, Qatar. Kini, mantan striker haus gol itu kini aktif di olahraga lain seperti polo dan golf. Ia juga aktif menjadi komentator sepak bola untuk Televisa Deportes, Argentina.

Batistuta, dikenal sebagai seorang striker yang sangat berbahaya. Bila sudah berada di mulut gawang dengan bola di kakinya, maka hampir mustahil itu untuk tidak menjadi gol. Kalau dihitung dengan data statistik, mungkin 80-90 persen akan berubah menjadi gol.

Batistuta memulai karir sepakbola profesional bersama Newell’s Old Boys, Argentina pada 1988. Namanya mulai menjulang saat membela Fiorentina pada kurun waktu 1991-2000. Di sini pula ia menjadi pujaan fans setempat dan dijuluki Batigol akibat kepiawaiannya menjebol gawang lawan.

Selama berkarier di Fiorentina, ia melesakkan 207 gol dari 332 pertandingan di seluruh kompetisi, termasuk saat Fiorentina terdegradasi ke Seri B Italia (184 gol di Seri A). Namun, setahun berada di level kelas II itu, ia membawa Fiorentina kembali ke Seri A seusai mengantarkan La Viola (julukan Fiorentina) menjuarai Seri B pada musim 1993-1994. Walau sebagai pemain yang paling terkenal, ia tak malu memperkuat Fiorentina hingga turun ke Seri B. Karena kecintaannya kepada klub tersebut, para pendukung Si Ungu—julukan lain Fiorentina—membuat patung Batistuta di Kota Florence, Italia.

Sayang, kemampuannya dalam menjebol gawang lawan, Batistuta tak mampu mengantarkan Fiorentina menjuarai Seri A. Hal ini sangat bertolak belakang dengan posisinya sebagai seorang striker yang paling ditakuti di era 1990-2000an. Selama memperkuat Fiorentina, ia hanya mengantarkan klub asal Kota Florence itu menjuarai Seri B (1993-1994), Juara Coppa Italia (1995-1996), dan Piala Super Coppa Italiana (1995-1996).

Tak kunjung meraih gelar bergengsi seperti Seri A atau Liga Champions, Batistuta lantas meninggalkan Fiorentina dan hijrah ke AS Roma. Di musim pertamanya bersama Giallorossi, Batistuta langsung meraih Scudetto 2000-2001. Ia juga mempersembahkan tropi Super Coppa Italiana di musim yang sama.

Seiring dengan bertambahnya usia, karir Batistuta perlahan meredup. Sempat dipinjamkan Roma ke Inter Milan pada tahun 2003, ia akhirnya meninggalkan Italia di tahun yang sama dan bergabung dengan klub al-Arabi, Qatar.

Di klub al-Arabi, Batistuta berhasil menjadi top skorer Liga Qatar pada 2004 dengan 25 gol dari 18 kali memperkuat klub itu sepanjang musim 2004-2005. Jumlah gol itu merupakan yang terbaik di Liga Qatar selama kompetisi diselenggarakan. Gol itu melampaui legenda Qatar, Mansour Mouftah, yang telah mempersembahkan 24 gol dalam semusim. Karena itu pula, ia pun berhak atas Arab League Golden Shoe (sepatu emas) untuk seluruh kompetisi di Liga Arab, dan sepatu emas liga Qatar.

Di tim nasional Argentina, pria kelahiran 1 Februari 1969 ini sampai sekarang masih tercatat sebagai pencetak gol terbanyak Argentina dengan 56 gol dari 78 pertandingan. Termasuk 10 gol di tiga Piala Dunia (1994, 1998, dan 2002).

Adapun total golnya selama berkarier di sepak bola profesional sebanyak 249 gol dari 440 kali pertandingan untuk tujuh klub, yakni Newell Boys, River Plate, Boca Junior (Argentina), Fiorentina, AS Roma, Inter Milan (Italia), dan Al-Arabi (Qatar).

Hebatnya, dari seluruh gol itu, sebagian, besar golnya dilakukan melalui tendangan keras kaki kanannya, baik di dalam maupun luar kotak pinalti. Di bandingkan dengan penyerang haus gol lainnya, ia termasuk striker yang paling sedikit mencetak gol melalui pinalti. Alasannya sederhana, tugas seorang striker itu adalah mencetak gol. Dan gol yang terbaik dibuat striker adalah melalui aksi individu, bukan saat bola 99 persen akan gol (pinalti).

Ia pernah menolak melakukan eksekusi pinalti saat klub yang dibelanya (AS Roma) bertemu dengan Fiorentina di musim 2000-2001. Hal itu dilakukannya karena kecintaannya pada Fiorentina. Tapi, dalam pertandingan itu, ia berhasil menjebol gawang Fiorentina dari luar kotak pinalti melalui kerja sama yang apik dengan rekannya. Namun ia tak melakukan selebrasi seusai mencetak gol tersebut. Tendangan pinalti yang paling sering dilakukannya pada musim 1994-1995. Kala itu, ia mengukir 26 gol, dan 8 berasal dari tendangan pinalti. (syafik).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s