Nyawa Manusia Lebih Murah dari Helem


Mereka bangga dengan helem cetoknya kendati harus mempertaruhkan nyawa. (www.syahruddinelfikri.blogspot.com)

Jodoh, rezeki, dan nasib adalah urusan Tuhan, begitu juga dengan kematian merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Pencipta. Proses kematian itu terjadi karena bermacam-macam. Ada yang karena sakit, keracunan, tabrakan, kebakaran dan lain sebagainya. Pendek kata, umur sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.

Memang, tanpa disadari, terkadang kita justru bermain-main dengan kematian. Entah bermain dengan api yang kemudian jadi terbakar, atau dengan bermain sulap menusukkan pisau ke tubuh, dan lainnya. Nyawa menjadi mainan belaka. Bahkan bagi sebagian orang, mungkin nyawa tidak memiliki arti apa-apa. Lihatlah cara mereka memperlakukan nyawa dengan segitu ‘murahnya.’

Tulisan ini untuk memperkaya tulisan saudara Edo Rusyanto http://edorusyanto.wordpress.com/2012/02/15/mbak-helmnya-kok-di-tangan/ yang menulis soal banyaknya pengguna motor yang enggan memakai helem. Artikel ini sebelumnya juga pernah ditulis oleh saudara Syahruddin E di blog pribadinya (http://syahruddinelfikri.blogspot.com/2008/06/bila-harga-nyawa-tak-semahal-helm.html ) Karenanya, saya kutipkan lagi artikel yang bersangkutan dengan sejumlah editing.

Ada ungkapan menarik, bila tidak ingin terbakar, janganlah bermain api. Dan jika tidak ingin terluka, jangan bermain pisau. Namun, manusia justru bermain-main dengan api dan pisau. Hal itu dilakukan bukan untuk keperluan yang sepatutnya, tetapi untuk sekadar unjuk kebolehan dan menunjukkan ‘kedigdayaan’ semata. Tak jarang, mereka sendiri mengalami kecelakaan yang berakibat fatal dengan main-main itu, yaitu meninggal dunia.

Kini, sebagian kematian itu berada di jalanan (selain di rumah, di rumah sakit, di kantor dan lainnya). Jumlahnya mencapai puluhan hingga ratusan ribu. Lengah sedikit saja, pelakunya siap menjemput ajal. Ya, data Polda Metro Jaya menyebutkan, tahun 2011 terdapat lebih kurang 4.500 kecelakaan dengan jumlah korban mencapai seribu lebih. Ini baru untuk Polda Metro Jaya. Bagaimana dengan wilayah lainnya di seluruh Indonesia yang totalnya berjumlah 33 Polda? Tentu akan lebih banyak lagi.

Menurut riset yang dilakukan Asian Development Bank (ADB), pada tahun 2003 terdapat 24,5 juta kecelakaan di jalan raya di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sembilan ribu orang mengalami luka-luka ringan, enam ribu orang luka berat dan 8,7 ribu orang meninggal dunia. Sebanyak 16 persen kecelakaan tersebut berhubungan dengan mobil dan 73 persen dengan sepeda motor. Bahkan, pada dengan angka 30 ribu saja jumlah orang yang meninggal karena kecelakaan, jumlah ini sudah lebih banyak dibandingkan virus flu burung yang dihebohkan dunia.

Besarnya jumlah kecelakaan ini, diantaranya disebabkan oleh makin banyaknya jumlah kendaraan bermotor. Di Jakarta, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai delapan juta unit, mulai dari sepeda motor, kendaraan pribadi hingga angkutan umum. Jumlah kendaraan itu setara dengan jumlah penduduk DKI Jakarta yang mencapai hampir sembilan juta jiwa. Ini angka di malam hari.

Pada siang hari, angka tersebut akan bertambah seiring dengan datangnya para pekerja dari kota satelit seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok dan daerah sekitarnya yang mencapai empat juta orang, sehingga total mencapai 12 juta jiwa lebih.

Posisi Jakarta sebagai pusat ekonomi telah mendorong orang-orang diluar Jakarta dan luar pulau Jawa untuk mencari rezeki di ibukota Indonesia ini. Banyak dari orang-orang yang datang ke Jakarta ini tanpa dibekali dengan keahlian dan keterampilan khusus, sehingga berdampak pada masalah sosial. Salah satunya berkaitan dengan lalu lintas. Minimnya keterampilan dalam berkendaraan, membuat tingkat kecelakaan yang disebabkan oleh faktor pengendara cukup besar.

Sepeda Motor

Menurut mantan Direktur Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri, Brigjen Polisi Drs Yudi Sushariyanto SH, dari seluruh peristiwa kecelakaan terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebabnya. Yakni, faktor manusia (pengendara), lingkungan (jalan) dan kendaraan yang kurang laik jalan. ”Dari tiga penyebab itu, faktor pengendara dalam arti minimnya keterampilan berkendara dan ketidakwaspadaannya, menempati posisi teratas dibandingkan dengan faktor lainnya,” kata Yudi.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Metro Jaya, tahun 2006 terdapat 4.407 kejadian (kecelakaan) dengan melibatkan 3.092 kejadian dikarenakan oleh faktor pengemudi (pengendara), 823 karena kendaraan tidak laik jalan dan 492 karena kondisi jalan yang tidak baik.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), hingga saat ini jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai 28 juta unit. Angka ini terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 2011 lalu, sedikitnya ada 7-8 juta unit sepeda motor yang kembali bertambah di jalanan.

Helm Standar

Berdasarkan data Ditlantas Polda Metro Jaya, jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara sepeda motor jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengemudi (mobil). Jumlahnya lebih dari tiga kali lipat.

Namun, satu hal yang menjadi catatan penting, sebagian besar pengendara sepeda motor yang meninggal itu, karena tidak dilengkapi dengan standar keselamatan yang sempurna. Baik dari kepala (helm), lutut/dengkul, mata kaki, siku, tangan, punggung dan lainnya. Begitu juga dengan kendaraannya yang tidak dilengkapi dengan spion, akibat rem yang blong, ban bocor/pecah dan lain sebagainya.

Lebih spesifik lagi, jumlah korban yang meninggal itu disebabkan karena mengalami pecah kepala. Artinya, helm yang digunakan tidak mampu menahan kerasnya benturan/kecelakaan yang terjadi, sehingga mengalami kondisi yang parah tersebut.

Secara kasat mata, dengan mudah bisa kita saksikan banyaknya pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar (helm yang memenuhi unsur keselamatan/Safety). Menurut ketentuan Internasional, helm standar itu memenuhi empat unsur penting (komponen dasar), yaitu outer shell (bagian terluar, bahannya bisa terbuat dari fiberglass, atau seperti thermoplasticpolycarbonate); impact-absorbing liner (bagian penahan benturan dari dalam helm, biasanya terbuat dari polystyrene); comfort padding (lapisan untuk kenyamanan seperti busa dan kain pelapis); dan retention system (sistem pengikat helm). Yang terakhir ini merupakan komponen yang sangat penting untuk memastikan agar helm tetap menempel di kepala meski terjadi kecelakaan. Setiap tali dirancang agar terhubung pada setiap sisi dari tempurung helm.

Dari keempat komponen tersebut, maka kualifikasi helm yang memenuhi standar tersebut adalah helm yang memiliki pelindung luar, pelindung bagian dalam, busa pengaman dan tali pengikat. Dengan contoh ini, maka helm yang dianggap memenuhi standar adalah helm yang berbentuk full face (menutup keseluruhan wajah). Helm model ini merupakan jenis helm yang memberikan keselamatan tertinggi. Sedangkan helm model 3/4 (three-quarter open face), walaupun konstruksinya sama dengan helm full face, namun memiliki tingkat perlindungan lebih kecil.

Bagaimana dengan helm yang half face (setengah terbuka) seperti jenis helm batok (topi)? Helm jenis ini dalam UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas tidak direkomendasikan. Sebab, tingkat keamanan dan kenyamanan untuk pengendara sepeda motor sangat kecil.

Namun demikian, realitas di lapangan, ternyata banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm 3/4 atau standar. Parahnya lagi, malah banyak yang menggunakan helm half face (cetok) bahkan tidak menggunakan helm. Kalau pun terpaksa menggunakan helm, maka yang dipilih pun tentunya yang lebih murah atau seharga Rp 10-15 ribu per unit. Dengan bangganya mereka menggunakan helm cetok tersebut. Seolah, mereka tak mau peduli dengan nyawanya. Prinsipnya, pakai helm tersebut agar tidak ditilang polisi. Ternyata, mereka lebih sayang pada uang daripada nyawa mereka meregang di aspal. Ya, nyawa mereka tak lebih mahal dari harga sebuah helm cetok yang berharga antara Rp 10-15 ribu.

Kondisi ini semakin diperparah dengan adanya peserta pengajian yang naik motor berbondong-bondong ke pengajian, namun mereka hanya mengandalkan kopiah bewarna putih (kopiah haji) sebagai pengganti helem. Padahal, kalau jatuh atau kecelakaan, kopiah tak akan lebih kuat dibandingkan helem cetok sekalipun. Parah……

10 responses to “Nyawa Manusia Lebih Murah dari Helem

  1. Klau bleh disarankan, demi kpntingan umum, pra pengendara dlarang memakai helm selain helm stamdar.

  2. terkadang hal kecila selalu di spelekan . setelah kejadian naas menimpa, barulah penyesalan muncul.

    menarik pembahasannya..salam kenal

    Revolusi Galau

    • betul gan, yang kecil kerap disepelekan, lama-lama jadi besar. Perbuatan buruk yang kecil, dibiarkan terus menerus, lama-lama jadi besar… Salam kenal juga. makasih atas kunjungannya.

  3. setuju banget,,,,intinya mulailah dari sekarang pakai helm yg berstandar SNI,, artikel nya keren ,,,,

  4. peraturan wajib ditegakkan dengan tegas. Polisi jangan mau dimakan “Aksi Damai” oleh para pengendara mobil dan motor

  5. semua kembali kepada pribadi, prihatin ternyata banyak masyarakat kita yang belum menyadari tentang pemakaian helm

  6. Pengalaman selama di RS Polri, ada bapaknya Temen (baru kenalan), bapaknya jam 3 pagi masa nyium trotoar…kekencengan akhirnya patah deh itu tulang rahang, di operasi…selidik punya selidik bapaknya POLISI, and salahnya menurut ane dia pake helm setengah/half face … mungkin ga ada ceritanya kalo pake helm full face…bagusnya memang standar itu yang full face,atau kaya helm ane bisa full bisa half…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s